MEMPERTANYAKAN POVIDONE IODINE SEBAGAI ANTISEPTIK

antiseptik, povidone iodine

Povidone Iodine (Betadine, Isodine, Molexdine dll) merupakan obat antiseptik yang wajib ada dalam kotak P3K. Sebab obat ini merupakan obat populer untuk pertolongan saat terjadi luka. Namun beberapa pakar memperingatkan tentang efek povidone iodine ini.

“Bro.., apa bener kalau Povidone Iodine itu justru tidak boleh diberikan pada luka?”. Begitu sebuah pesan WA masuk ke android jadulku.

“Kalau tidak boleh diberikan, terus alternatifnya apa? Soalnya anakku baru jatuh ini. Kakinya lecet”.

Wah..wah.. pertanyaan ini segera dijawab tuntas, biar sahabat saya itu punya solusi atas luka anaknya. Solusinya? ya tentu dari apoteker satu-satunya dikompleks ini.

Obat Antiseptik

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan antiseptik? Obat antiseptik sering juga disebut germisida, adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa.

Obat antiseptik jelas berbeda dengan disinfektan ataupun antibiotik. Disinfektan digunakan untuk benda-benda tak hidup, sedangkan antibiotik meski dapat digunakan untuk mikroorganisme (bakteri) di permukaan, namun mempunyai cara kerja yang berbeda.

Antibiotik bekerja dengan cara spesifik, yaitu dengan target pada bakteri, tanpa mempengaruhi lingkungannya, sedangkan antiseptik tidak spesifik, yaitu dengan mempengaruhi lingkungan tempat mikroorganisme itu berada.

Karena sifatnya yang mempengaruhi bakteri dipermukaan, antiseptik tidak dapat digunakan untuk infeksi yang ada di dalam tubuh. Antiseptik digunakan untuk luka di kulit, atau luka yang tidak dalam.

Efektivitas Antiseptik

Obat antiseptik tidak bekerja seara spesifik. Obat ini bekerja menghancurkan bakteri, virus ataupun jamur. Karena sifatnya yang demikian, antiseptik digunakan pertama untuk membersihkan dan mencegah infeksi pada luka.

Efektivitas antiseptik pada mikroorganisme tergantu pada 2 faktor; yaitu konsentrasi dan lama paparan. Pada konsentrasi rendah, beberapa antiseptik hanya menghambat biosintesis bakteri, namun tidak mematikannya. Sedangkan pada konsentrasi tinggi, antiseptik dapat berpenetrasi ke dalam sel, mempengaruhi metabolisme sel, sehingga akhirnya dapat mematikan organisme tersebut.

Sedangkan lama paparan akan berbanding lurus dengan efektivitas. Artinya, semakin lama paparan, akan semakin baik. Itu;ah sebabnya, untuk luka, kadang dibungkus dengan kain kasa yang telah diberi antiseptik. Dengan cara ini, antiseptik bisa bekerja dengan maksimal karena kontak dengan konsentrasi dan waktu yang cukup.

Jenis-jenis Antiseptik

Saat ini terdapat beberapa jenis antiseptik yang populer digunakan. Tiap jenisnya mempunyai karateristik dan mekanisme kerja yang berbeda. Berikut adalah beberapa jenis obat antiseptik tersebut.

Alkohol

Alkohol merupakan antiseptik yang banyak digunakan. Cara kerjanya dengan “melarutkan” dinding sel mikroorganisme. Cukup efektif namun kelemahannya adalah mudah menguap. Akibatya waktu kontak dengan mikroorganisme hanya berlangsung singkat. Alkohol palinh efektif sebagai antiseptik jika berada dalam kadar 70 persen.

Hidrogen Peroksida

Hidrogen peroksida adalah oksidator kuat. Antiseptik ini bekerja dengan cara mengoksidasi membran sel mikroorganisme sehingga membran sel kehilangan fungsinya. Hidrogen peroksida merupaka oksidator kuat namun tidak menimbulkan iritasi. Karenanya, dapat diaplikasikan pada mmbran mukosa. Kelemahannya adalah zat ini mudah kehilangan unsur oksigen, sehingga sifat antieptiknya juga hilang.

Triclosan

Ini merupakan antispetik yang luas digunakan pada sabun, deodoran dan obat kumur. Spektrum kerja Triclosan cukup luas, dapat mencakup berbagai jenis mikroba. Mekanisme kerja antiseptik ini adalah dengan menghambat biosintesis lipid. Hal ini menyebabkan organ-organ mikroba keilangan funsinya.

Rivanol

Rivanol atau etakridin laktat laktat adalah antiseptik yang bersifat bakteriostatik. Artinya, rivanol tidak mematikan kuman, namun menghambatn pertumbuhannya. Dengan sifat ini, rivanol sangat tepat digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka.

Povidone Iodine

Ini merupakan antiseptik yang paling populer. Tersedia dalam berbagai merek, seperti Betadine, Isodine, Molexdine dll, dan ada dalam berbagai sediaan, dari cairan, salep hingga obat kumur.

Povidone Iodine bekerja dengan cara merusak sel mikroorganisme, sehingga sel akan rusak dan tidak aktif. Spektrum kerjanya cukup luas, meliputi berbagai jenis mikroorganisme, dari jamur, bakteri hingga virus.

Kontroversi Povidone Iodine

Dapat dikatakan povidone iodine merupakan antiseptik yang sangat efektif. Namun terdapat efek samping yang perlu diperhatikan, yaitu sifat iritatifnya. Dengan efek ini, terkadang povidone iodine dapat memperlambat penyembuhan luka. Sifat inilah yang membuat penggunaan povidone iodine menjadi kontroversi.

Beberapa praktisi kesehatan melarang penggunaan povidone iodine sebagan antiseptik. Sebab, pada proses penyembuhan, jaringan baru akan terbentuk menggantikan jaringan yang rusak. Jika terjadi iritasi, maka hal ini berarti terjadi kerusakan jaringan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa povidone iodine tidak dilarang penggunaannya sebagai antiseptik luka.

Meski demikian, povidone iodine masih digunakan untuk luka gores dan terbuka. Sebab pada luka seperti ini, iritasi yang terjadi masih dapat diabaikan, dibanding manfaatnya untuk mencegah infeksi.

Itu yang saya sampaikan pada sahabat saya, yang bimbang pada penggunaan povidone iodine sebagai antiseptik.

Teguh Is Winarno, apoteker di apotik Randukuning, Pati, Jawa Tengah. Senang menulis tapi lebih menyukai hari libur...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *